Dua teman saya, pagi ini menikah. Di hari baik, disaat
jutaan muslim menghayati kehadiran Rasul beribu tahun lalu. Bersyukur akad
nikah mereka beda pukul. Jadi saya sempat hadir kedua-duanya.
Mengenal Ismi dan Baiquni adalah mengenal bagaimana pendidikan itu harus
dikejar. Mereka berdua tipikal pengejar mimpi, gemar sekolah, suka berdiskusi,
suka menulis, tapi juga suka nongkrong di warkop. Entah kapan tepatnya,
berteman dengan mereka terbilang menjadi akrab.
Dengan Baiquni, dulu, kami pernah membentuk komunitas It'sMe
(entah iya namanya ini. Lupa). Komunitas youtube yang menyiarkan beragam
hal-hal baik sederhana. Keseringan kita ngumpul di warkop, berdiskusi lalu take
gambar dan upload di youtube. Berharap orang-orang yang nonton menjadi tersadar
ada banyak hal baik di sekitar kita yang patut diperhatikan, ketimbang sibuk
mencibir sana sini. Tapi sayang, komunitas ini benar-benar seusia batang toge.
Bukan lagi seumur jagung. Baru tumbuh malah langsung gulung tikar. Klise.
Kesibukan membernya salah satu alasannya.
Dengan Ismi, mengenal sejak zaman sibuk cari referensi
blog. Ismi ini dulunya salah satu blogger Aceh yang lumayan hit, sebelum
akhirnya ia terjun bebas jadi tukang foto. Hobinya bercerita. Menggebu-gebu
kayak diuber kalajengking di kebun duren. Ada aja bahan kalau lagi ngumpul.
Hebohnya tak terkira-kira, seakan-akan dunia ini kayak Dunia Fantasi. Selalu
rame.
Walau semakin jarang ngumpul, tapi beberapa kali jumpa tidak
sengaja. Kalau sama Baiquni keseringan jumpa di masjid, jumpa saat itikaf, dan
sesekali di warkop. Kalau sama Ismi lain lagi. Keseringan jumpa di warkop.
Karena hobinya memang suka ngider-ngider kota. Kalau lagi galau pasti ngajak
ngopi. Sesekali makan nasi goreng kampung yang katanya rasanya wow banget! Eh,
pas dicoba biasa aja.
Dua teman ini punya pengalaman yang paling mengesankan bagi
saya.
Dengan Baiquni, saya teringat suatu ketika saat menjenguk seorang teman yang dirawat di Rumah Sakit. Obrolan lelaki dewasa yang masuk usia sirine ambulance, pembahasan kita adalah "kapan menikah?"
Di parkiran kita bahas banyak. Dan satu pesan darinya yang akhirnya saya pegang setelah itu.
"Aku hat, sekarang kalau ada yang ingin menjodohkan atau menawarkan nggak langsung kutolak. Tapi coba jalanin dulu prosesnya" pesannya.
Dengan Baiquni, saya teringat suatu ketika saat menjenguk seorang teman yang dirawat di Rumah Sakit. Obrolan lelaki dewasa yang masuk usia sirine ambulance, pembahasan kita adalah "kapan menikah?"
Di parkiran kita bahas banyak. Dan satu pesan darinya yang akhirnya saya pegang setelah itu.
"Aku hat, sekarang kalau ada yang ingin menjodohkan atau menawarkan nggak langsung kutolak. Tapi coba jalanin dulu prosesnya" pesannya.
Yah, harus diakui, kebanyakan dari kita belum apa-apa,
kalau ada yang nawarin jodoh pasti langsung tolak dalam detik yang sama.
Langsung bilang enggak walau sebenarnya belum ketemu siapa dan bagaimana
orangnya. Tapi pesan Baiquni siang itu, ada proses melangkah sebenarnya yang
harus dilalui sebelum mengatakan "iya" atau "tidak".
Pesan sama ia utarakan lagi setahun lalu. Selepas itikaf di masjid menunggu sahur tiba, dia mampir dan kita mengobrol panjang. Ujarnya kurang lebih seperti ini; jodoh itu sebenarnya ada di pikiran dan waktu. Bisa jadi orang yang dulu kita tolak, tahun ini kita terima. Sebab semakin berjalan waktu, semakin merubah jalan pikiran kita. Mungkin disini mulai berlaku cara bijak memutuskan.
Pesan sama ia utarakan lagi setahun lalu. Selepas itikaf di masjid menunggu sahur tiba, dia mampir dan kita mengobrol panjang. Ujarnya kurang lebih seperti ini; jodoh itu sebenarnya ada di pikiran dan waktu. Bisa jadi orang yang dulu kita tolak, tahun ini kita terima. Sebab semakin berjalan waktu, semakin merubah jalan pikiran kita. Mungkin disini mulai berlaku cara bijak memutuskan.
Ismi begitu juga. Ia galau berat memutuskan lelaki yang akan ia
terima. Hal wajar terjadi pada semua orang. Kita sempat berdiskusi hingga larut
di sebuah warung kopi. Memecah kebuntuan pikirannya, dan mendobrak sedikit
keras kepalanya. Pesan saya saat itu yang bikin ia lumayan melunak adalah.
"Terkadang saat menikah kita nggak cukup cuma butuh cinta, tapi lebih dari itu. Yakin!! Yakin sama dia, kita menjadi orang lebih baik."
"Terkadang saat menikah kita nggak cukup cuma butuh cinta, tapi lebih dari itu. Yakin!! Yakin sama dia, kita menjadi orang lebih baik."
Eh, berselang bulan kemudian ia menerima pinangan. Yakin dengan
lelaki yang mengejarnya beberapa bulan lalu. Ketika saya tanya, "kenapa
terima?"
Alasannya, "Mi yakin dia bisa jaga Ismi dengan baik,"
Nah kan! Mengingat itu saya lumayan geli. Sebab berbilang bulan sebelumnya ia galau berat. Bahkan sampai nangis segala yang bikin saya kegalapan. Hahaha..
Alasannya, "Mi yakin dia bisa jaga Ismi dengan baik,"
Nah kan! Mengingat itu saya lumayan geli. Sebab berbilang bulan sebelumnya ia galau berat. Bahkan sampai nangis segala yang bikin saya kegalapan. Hahaha..
Tapi selain itu, ada satu bagian yang bikin saya
tertegun dengan alasan lainnya. Ia mengutip ucapan Bu Hen. Nah, saya sampai
sekarang nggak tahu Bu Hen ini siapa. Entah kutipan tokoh di novel? Film? Atau
tetangga rumahnya??
Pesannya, "nanti saat kamu memilih pasangan, milih yang
cintanya dia lebih besar daripada cinta kamu ke dia. Karena dengan begitu dia
gak akan menyakiti kamu."
Asyeekk...
Terlepas dari cerita gombal gambil di atas, pernikahan
kedua teman ini terasa syahdu. Mereka memutuskan menikah hanya dalam masa 3-4
bulan berproses dan berkenalan. Seperti sebuah judul buku yang sempat saya
lirik di tobuk beberapa hari lalu; pacarmu belum tentu jodohmu. Mungkin ini
salah satu contohnya.
Mereka tidak pacaran, dan yakin dengan membawa nama
Tuhan saat memutuskan dalam istikharah. Pernikahan itu jalan berat tapi patut “dipermudah”.
Dipermudah bagi setiap orang beda-beda. Kembali lagi jalan mana dilalui, pola
pikir apa yang digunakan. Terlalu banyak syarat-syarat, mungkin terlalu sulit
juga untuk dipermudah.
Barakallah
untuk Baiquni Hasbi dan
Suci.
Barakallah untuk Ismi Laila Wisudana dan Darul Aulia
Semoga pernikahannya sakinah mawaddah warrahmah. Menjadi keluarga tangguh selayak Muhammad dan Khadijah.
Barakallah untuk Ismi Laila Wisudana dan Darul Aulia
Semoga pernikahannya sakinah mawaddah warrahmah. Menjadi keluarga tangguh selayak Muhammad dan Khadijah.
24 Des 2015/12
Rabiul Awal
Baiquni (kiri). dan Ismi (kanan) |
"nanti saat kamu memilih pasangan, milih yang cintanya dia lebih besar daripada cinta kamu ke dia. Karena dengan begitu dia gak akan menyakiti kamu."
BalasHapusquotenya cuiit banget.
Terharu saya bacanya mas ferhat
BalasHapus